Ngabuburit Online hingga Challenge Khatam, Tren Baru Puasa Anak Muda

18 hours ago 8
BERBAGI MOMEN— Tren berbagi momen saat Ramadhan adalah salah satu kebiasaan generasi muda yang tren di era digital.

BULAN suci Rama­dhan selalu menghadirkan perubahan dalam pola hi­dup umat Muslim. Namun di era digital, perubahan tersebut terasa semakin nyata, terutama di kalangan Generasi Z dan milenial. Kehadiran teknologi, media sosial, serta gaya hidup modern membentuk cara baru generasi muda menjalani ibadah puasa.

Sejumlah riset menunjukkan bahwa generasi muda merupakan kelompok paling aktif dalam peng­gunaan internet dan media sosial. Laporan dari Pew Research Center men­catat tingginya intensitas aktivitas digital di kalangan usia muda, yang secara tidak langsung memengaruhi kebiasaan sehari-hari, termasuk saat Ramadhan.

Sementara itu, studi dari American Psychological Association (APA) me­nyebutkan bahwa media digital memiliki dampak terhadap perilaku sosial dan rutinitas harian, termasuk kebiasaan religius.

Berdasarkan rangkuman dari Statista dan McKinsey & Company, Jumat (27/2), terdapat sejumlah pola kebiasaan baru ge­nerasi muda saat menjalani puasa Ramadhan di era digital.

Ngabuburit Digital dan Konsumsi Konten Religi. Jika dahulu ngabuburit i­dentik dengan aktivitas fisik di luar rumah, kini banyak anak muda mengha­biskan waktu menjelang berbuka dengan menonton kajian singkat, podcast Islami, hingga konten motivasi Ramadhan melalui YouTube atau TikTok.

Laporan Statista me­nunjukkan adanya peningkatan konsumsi video daring selama periode keagamaan di berbagai negara. Fenomena ini me­nandakan pergeseran aktivitas menunggu waktu berbuka dari ruang fisik ke ruang digital.

Konten ceramah sing­kat, resep takjil viral, hingga potongan ayat Al-Qur­’an menjadi tren tersendiri. Meski memperluas akses ilmu agama, generasi muda diingatkan untuk te­tap selektif dalam memilih sumber informasi agar terhindar dari konten yang tidak valid.

Berbagi Momen Rama­dhan di Media Sosial. Ramadhan juga menjadi a­jang berbagi pengalaman di dunia maya. Banyak generasi muda mengunggah foto menu sahur, buka puasa bersama, hingga momen tarawih di Instagram dan platform lainnya.

Penelitian dari Harvard Business School menyebutkan bahwa berbagi pengalaman di media sosial dapat meningkatkan rasa keterhubungan sosial. Hal ini selaras dengan sema­ngat kebersamaan yang men­jadi ciri khas Rama­dhan.

Namun, para ahli juga mengingatkan adanya potensi perilaku pamer atau perbandingan sosial. Karena itu, penggunaan media sosial selama Ramadhan perlu diiringi niat yang tulus dan bijak.

Lonjakan Belanja dan Kuliner Online. Kemudahan layanan digital turut memengaruhi pola konsumsi. Generasi muda cenderung memesan maka­nan berbuka melalui aplikasi daring karena dinilai praktis di tengah kesibukan.

McKinsey & Company mencatat peningkatan signifikan penggunaan laya­nan digital selama momen-momen khusus, termasuk Ramadhan. Tren ini bahkan berlanjut setelah periode tersebut berakhir.

Menu seperti es buah, kolak pisang, gorengan, dan ayam geprek tetap menjadi favorit. Namun para pakar mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan gizi agar tubuh tetap sehat selama berpuasa.

Belanja online untuk kebutuhan ibadah, seperti mukena, sarung, hingga Al-Qur’an digital, juga me­ngalami peningkatan. Ramadhan pun menjadi salah satu momentum pertumbuhan ekonomi digital.

Challenge dan Kampa­nye Ramadhan. Generasi muda juga aktif mengikuti tantangan daring bertema Ramadhan, seperti target khatam Al-Qur’an 30 hari atau sedekah harian.

Riset dari University of Oxford menyebutkan bahwa tantangan digital dapat meningkatkan motivasi kolektif dan membantu membangun kebiasaan positif.

Sejumlah kampanye sosial bahkan digagas komunitas Muslim global se­perti Islamic Relief Worldwide yang mendorong partisipasi generasi muda dalam aksi kemanusiaan.

Perubahan Pola Tidur. Di sisi lain, aktivitas daring hingga larut malam setelah tarawih membuat pola tidur sebagian anak muda berubah. Paparan layar sebelum tidur diketahui dapat memengaruhi kualitas istirahat.

National Sleep Foundation menjelaskan bahwa penggunaan gawai sebelum tidur dapat me­ng­gang­­gu ritme sirkadian dan berdampak pada konsentrasi serta produktivitas.

Karena itu, Ramadhan juga menjadi momentum untuk menata kembali pola hidup, termasuk membatasi penggunaan gadget secara berlebihan.

Meningkatnya Spiritua­litas Berbasis Aplikasi. Tek­nologi tidak selalu berdampak negatif. Aplikasi pengingat shalat, Al-Qur’an digital, hingga pengatur jad­wal imsak kini semakin po­puler.

Laporan dari Global Islamic Economy Report me­nunjukkan peningkatan penggunaan aplikasi Islami setiap Ramadhan. Aplikasi tersebut membantu generasi muda mengatur target ibadah dan jadwal harian dengan lebih terstruktur.

Pada akhirnya, Rama­dhan di era digital meng­hadirkan wajah baru praktik keagamaan generasi muda. Teknologi menjadi alat yang dapat memper­kuat kualitas ibadah, asalkan dimanfaatkan secara bijak dan proporsional. (*/rom)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |