Kumcer Berbahasa Minang “Mangaji Indak Khatam”,  Cermin Sosial, Ruang Kontemplasi, dan Dokumentasi Kultural

4 hours ago 7

Oleh: Dirwan Ahmad Darwis, Ph.D.

Saya ingin mengulas kumpulan cerpen yang ditulis berbahasa Minang. Mangaji Indak Khatam, karya Firdaus Abie. Tujuannya tidak sekadar merangkum isi buku, tetapi berusaha menyingkap lapisan-lapisan makna yang terkandung di dalamnya, baik dari sisi estetik, sosial, maupun budaya.

Setelah membaca seluruh cerpen, saya berkesimpulan bahwa karya ini memiliki kekuatan yang tidak selalu tampak di permukaan. Materi awal dibuka dengan cerita-cerita ini terasa ringan, akrab, dan dekat dengan pengalaman sehari-hari, khususnya dalam kehidupan orang Minangkabau.

Di balik kesederhanaan itulah keistimewaannya: penulis berhasil mengolah peristiwa-peristiwa biasa menjadi refleksi sosial yang tajam, tanpa kehilangan daya pikat naratifnya karena ceritanya  lebih dekat dengan kehidupan orang Minangkabau asli.

Dari beberapa kali penelitian, secara kebudayaan saya membagi orang Minangkabau itu menjadi tiga kelompok, yaitu: Minang asli, Minang hanyuik dan Minang karam.

Dalam perspektif sosiologi sastra, Lucien Goldmann (1975) memandang karya sastra sebagai ekspresi pandangan dunia (world view) suatu kelompok sosial. Sastra tidak lahir dari ruang hampa; ia merupakan cerminan struktur sosial, nilai, dan kesadaran kolektif masyarakat tempat ia dilahirkan.

Pandangan ini sangat relevan untuk membaca Mangaji Indak Khatam. Melalui langgam bahasa, setting, serta tindakan para tokohnya, Firdaus Abie menghadirkan dunia Minangkabau yang sangat hidup, lokal, dan autentik. Cerpen-cerpen ini tidak hanya merekam realitas sosial, tetapi juga menampilkan kegelisahan kolektif masyarakat yang sedang berhadapan dengan perubahan nilai.

Sejalan dengan itu, Alan Swingewood dan Diana Laurenson (1972) menegaskan bahwa sastra merupakan salah satu medium paling efektif untuk memahami realitas sosial. Sastra bukan hanya menggambarkan kehidupan, tetapi juga mengkritik ketimpangan, perubahan nilai, dan problem-problem masyarakat.

Judul sebagai Metafora Besar

Judul Mangaji Indak Khatam sangat simbolik. Dalam tradisi Minangkabau, “mangaji” tidak sekadar berarti belajar membaca Al-Qur’an. Ia juga melambangkan proses pencarian ilmu, pembentukan karakter, dan perjalanan spiritual. Frasa “indak khatam” mengisyaratkan sesuatu yang belum selesai, suatu proses yang terputus, tertunda, atau bahkan gagal mencapai kesempurnaan.

Pertanyaan penting yang patut diajukan kepada penulis adalah: apakah judul ini merepresentasikan kondisi individu? Ataukah ia merupakan metafora bagi masyarakat yang belum tuntas memahami nilai, tradisi, dan kehidupan modern yang sedang dihadapinya?

Dari 19 cerita yang disajikan, saya melihat setidaknya ada empat gugus tematik utama.

Pertama, Kritik Sosial. Cerpen-cerpen dalam kelompok ini menyoroti berbagai persoalan masyarakat dengan sudut pandang yang tajam, namun tetap humanis.Maidu Dapue Amak, mengangkat penyimpangan makna tradisi balimau menjelang Ramadan.Pitih Panjapuik, menyindir praktik uang jemputan yang berlebihan hingga mendorong tindakan tercela.Lapau Ayah, menampilkan kritik terhadap ketidakadilan struktural dan perampasan ruang ekonomi rakyat kecil.Mangaji Indak Khatam, menggambarkan dampak egoisme seorang tokoh (minim kaderisasi) terhadap kehidupan sosial-keagamaan masyarakat.

Kekuatan penulis terletak pada caranya menyampaikan kritik: halus, cair, tidak menggurui, namun justru karena itu terasa lebih mengena.

Kedua, Romantisme dan Nostalgia. Ada sejumlah cerita yang merekam kenangan, kerinduan, dan jejak emosional masa lalu.Pulang, menghadirkan nostalgia mendalam tentang rumah, keluarga, dan figur ibu. Pesan budaya yang sangat kuat muncul dalam ungkapan: demi pendidikan, apa saja boleh dijual, kecuali harga diri dan agama.Padusi tu Saroman jo Astuti,mempertemukan kenangan, romantisme, dan refleksi lintas budaya jawa yang santun dan tanpa pamrih, dengan budaya Minangkabau yang materialistis dan kalkulatif.

Nostalgia dalam karya ini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga universal.

Ketiga, Kesetiaan, Harga Diri, dan Martabat.Tema ini sangat kuat, terutama dalam cerpen Abak,seorang pengusaha bengkel yang bangkrut. Cerita ini menampilkan sosok ayah yang tetap teguh menjaga martabatnya di tengah kemerosotan ekonomi dan perubahan sikap keluarga besar. Ia mengajarkan bahwa harga diri bukanlah kesombongan, melainkan kemampuan menjaga kehormatan dalam keadaan sulit. Di sini, penulis berhasil menghadirkan tokoh yang matang, bijaksana, dan sangat manusiawi.

Keempat, Kekuatan Jati Diri Minangkabau. Hampir seluruh cerpen dalam buku ini memperlihatkan kuatnya nilai-nilai Minangkabau yang berlandaskan falsafahAdat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Jelas tergambar bahwa nilai ini tampak bukan sebagai slogan, tetapi sebagai etos hidup yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi para tokohnya.

Dalam cerpen Saluang, misalnya, pesan moralnya sangat jelas: keburukan tidak seharusnya dibalas dengan keburukan. Adat dan agama berfungsi sebagai pengawal perilaku individu.  “Ayah malarang Piliang mambaleh parangai Ciwaik jo dandam, apo lai basakutu jo setan. Kecek ayah, jikok parangai buruak tu dibaleh, mako jadinyo labiah buruak pulo. Jikok paralu, parangai buruak urang tu baleh jo caro nan elok”. Sedangkan unsur budaya, seperti: Bapantang padusi kalua rumah surang2 sasudah sumbayang Isya. Termasuk kekhawatiran Piliang jikok diliek urang inyo sadang baduo-duo jo padusi tu. Ini sebagai bukti bahwa di Minangkabau amalan ABS-SBK yang berintikan adat dan agama mampu menjaga prilaku individu dalam masyarakat yang muncul melalui rasa takut dan malu.

Dalam cerita Abak, mulai dari ritme kehidupan Abak sewaktu punya bengkel sesuai konsep ABS-SBK, yang meninggalkan sholat (ritual agama/syarak atau hablum minallah). Begitu juga sikap Abak terhadap para pekerja, terhadap saudara-saudara dan lainnya (pelaksanaan adat budaya/hablum minannas).

Pada Cincin Kelopak Mawar, tampak bagaimana adat dan agama menjadi pagar etika dalam pergaulan sosial.

Amalan adat budaya berfungsi sebagai pengawal prilaku anggota bermasyarakat. Ini tercermin melalui ketakutan Badri kepada Rabiatun: Badri sangaik takuik kok Rabiatun mangecek-an ka urang lain. Kok itu tajadi, iyo lah ka pakau nasibnyo mah. Indak sidang nagari jo sanksi barek se nan ditakuik-annyo, tapi raso malu ko indak tabayang deknyo doh. Kama lah muko ka disuruak-an, ba-a lah kecek rang gaek jo dunsanaknyo bisuak. Iyo lah ka sansai mah. Ubeknyo iyo pa-i abih dari kampuang sampai mati. Tapi ba-a dek dunsanaknyo nan lain, kama lo ka pa-i. Kok lai badan surang, mungkin bisa dibaok mah.

Bukti bahwa di zaman dulu peran agama sangat berpengaruh dalam menjaga etika pergaulan. Sehingga untuk menghindari ketahuan Badri harus bertemu secara sembunyi2 dengan Rabiatun: Kok indak co itu, bisa kacau, karano di nagari tu, indak buliah urang nan indak muhrim jalan baduo, apo la-i bapole-polean.

Kekuatan Bahasa dan Pelestarian Khazanah Minangkabau

Salah satu kontribusi penting buku ini adalah upaya melestarikan kosakata Minangkabau lama yang kini mulai jarang digunakan.

Firdaus Abie menghidupkan kembali sejumlah istilah yang kaya nuansa budaya, antara lain: taralah, dipulun, sero, indak tabado, santuang, dilantuangnyo, tandeh, cah duduak cah tagak, sabana tumbuang paja tu, tacilabie, tabudua, sagadang tungau, basionjak onjai, iduik maranggeh, indak takao, sarok, sangkek sari, saisuak, segeh, dilanyaunyo, pelor, basalang tenggang, samati-mati angin, bantuaknyo cayah sajo, tenok, pudua, ndak tantu ojok, seka (aie mato), bapole, kaniak, satariak, pose (istirahat), ditoyong, tacangang, mantagi, sasak takuyuah (kajamban), sia (rantang), kicok (dikicok stek lu), ciknan, tacelak, ponten, engak, dan banyak lagi.

Ini bukan sekadar pilihan bahasa, tetapi juga tindakan kebudayaan. Bahasa adalah rumah kebudayaan. Dalam konteks ini, karya sastra berbahasa Minangkabau memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan bahasa ibu. Ketika bahasa melemah, jati diri budaya pun ikut terancam.

Sebagai pembaca, saya juga menemukan satu catatan kecil dalam cerpen Abak. Pada bagian awal disebutkan bahwa Abak telah wafat lima tahun sebelumnya, namun pada kalimat penutup nama Abak masih disebut sebagai pihak yang belum menerima kabar dari Udin. Hal ini tampaknya merupakan kekeliruan editorial kecil. Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi kekuatan emosional cerita secara keseluruhan.

Sikap Abak dan Amak yang tegas dan sangat bijaksana, patut diteladani dalam mendidik anak. Namun setelah dewasa, Udin terkesan jadi anak durhaka, karena sejak merantau tidak pernah memberi tahu orang tuanya di kampung. Apakah ada pesan tersirat tertentu yang disampaikan oleh penulis, mengapa di akhir cerita terasa ada yang paradoks?

Saran/rekomendasi

Karangan dalam bahasa Minangkabau perlu diperbanyak untuk malestarikan bahasa ibuyang kini mulai ditinggalkan.  Apalagi sekarang seperti saya sebutkan pada kulit bahagian belakang buku kumpulan cerpen ini, bahwa pada tahun 2016 saya hadir dalam Kongres Bahasa Daerah Nusantara di Bandung. Dalam acara tersebut diumumkan bahwa bahasa Minangkabau adalah salah satu bahasa daerah Nusantara yang kini tarancam punah.

Sayangnya kita adalah bangsa yang memang sengaja dijauhkan dari sejarah, dari budaya dan bahasa. Sehingga kita tidak tahu manfaat dan fungsinya. Ada tangan-tangan tersembunyi yang memang secara sistematis melakukan hal ini.

Pada akhirnya, Mangaji Indak Khatam bukan sekadar kumpulan cerita pendek. Ia adalah cermin sosial, ruang kontemplasi, dan sekaligus dokumentasi kultural.

Karya ini membuktikan bahwa sastra yang baik adalah sastra yang mampu menyentuh perasaan sekaligus menggugah kesadaran. Ia tidak berteriak dalam menyampaikan kritik, tetapi berbisik, dan justru karena itu, suaranya terasa lebih lama bergema.

Dalam keseimbangan antara keindahan bercerita, kedalaman emosi, ketajaman kritik sosial, dan kekuatan nilai budaya, bagi saya buku ini menemukan daya hidupnya.*

*) Penulis adalah peneliti jati diri budaya

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |