Puluhan WNA asal Belanda Napak Tilas Situs Bersejarah Jalur Kereta Api di Sijunjung, Bupati Benny Promosikan Wisata Unggulan Geopark Silokek

23 hours ago 10

Beranda BERITA UTAMA Puluhan WNA asal Belanda Napak Tilas Situs Bersejarah Jalur Kereta Api di Sijunjung, Bupati Benny Promosikan Wisata Unggulan Geopark Silokek

BERITA UTAMA

TAPAK TILAS— Bupati Sijunjung Benny Dwifa dan jajaran mendampingi sejumlah warga negara asing (WNA) asal Belanda yang melakukan napak tilas sejarah pembangunan rel kereta api di Muaro Sijunjung-Pekanbaru.

SIJUNJUNG, METROSejumlah warga negara asing (WNA) asal Belanda yang merupakan keturunan pekerja romusha pada zaman perang dunia ke II melakukan tapak tilas sejarah pembangunan rel kereta api di Muaro Sijunjung-Pekanbaru.

Warga negara Belanda yang berjumlah sebanyak 31 orang itu berziarah ke bekas lokasi tempat orang tua mereka dahulu dipe­kerja­kan sebagai romusha di kawasan lokomotif tua di Durian Gadang, sekaligus berwisata di kawasan Geo­park Silokek.

Mereka merupakan gabungan dari keturunan pekerja asal Belanda yang dipekerjakan pada zaman penjajahan Jepang pada tahun 1943- 1945, khususnya pembuatan jalur kereta api di Sijunjung.

Para rombongan disambut Bupati Sijunjung Benny Dwifa dan jajaran pemerintah daerah serta diajak langsung untuk mengunjungi situs-situs sejarah jalur kereta api hingga destinasi Geopark Silokek, pada Sabtu (16/5).

Bupati Sijunjung menerangkan, sejarah jalur kereta api di Sijunjung memiliki dua cerita besar, yakni pembangunan rel oleh pemerintah kolonial Belanda dan pembangunan rel menggunakan tenaga kerja paksa romusha pada masa pendudukan Jepang.

“Dokumen pembangunan rel pada masa Belanda masih tersimpan rapi dalam arsip resmi pemerintah daerah, mulai dari peta, foto hingga laporan administrasi. Namun dokumen pembangunan rel oleh­ romusha pada masa Jepang hampir tidak ditemukan. Hal itu disebabkan sebagian besar dokumen militer Jepang terkait pe­nge­rahan romusha diduga dimusnahkan menjelang berakhirnya perang pada tahun 1945,” tutur Benny.

Dijelaskan Benny, Muaro Sijunjung pada masa itu merupakan daerah penghasil batu bara yang sangat penting bagi kepentingan perang masa Jepang. Karena itu, Jepang membangun jalur kereta api menuju Pekanbaru demi memperlancar distribusi batu bara.

“Di tengah medan berat dan perlakuan di luar batas kemanusiaan, ribuan romusha dipaksa bekerja. Banyak yang meninggal secara mengenaskan,” ujarnya.

Di balik kisah sejarah kelam tersebut, Bupati Benny turut memperkenalkan potensi wisata unggulan daerah, yakni Geopark Silokek kepada WNA asal Belanda. Promosi itu dilakukan untuk memperluas jaringan wisata mancanegara sekaligus mengenalkan pesona alam Kabupaten Sijunjung ke dunia internasional.

“Geopark Silokek merupakan salah satu kebanggaan Kabupaten Sijunjung yang memiliki potensi luar biasa. Kita ingin dunia mengenal keindahan alam dan budaya daerah ini. Termasuk situs-situs sejarah di masa lampau,” ungkap Benny.

Ia juga memaparkan peluang investasi di sektor pariwisata, ekonomi kreatif hingga wisata berbasis lingkungan berkelanjutan. Bupati berharap Geopark Silokek mampu menjadi magnet wisatawan mancanegara, termasuk dari Belanda yang memiliki ke­ter­kaitan sejarah dengan wilayah Kabupaten Sijunjung.

Ketua Yayasan Peringatan Jalur Kereta Api Burma Siam dan Kereta Api Muaro-Pekanbaru, Wouter Neohouse, mengungkapkan rasa haru bisa menginjakkan kaki langsung di tanah yang menjadi saksi penderitaan para pekerja paksa puluhan tahun silam.

“Kami adalah keluarga keturunan bekas pekerja romusha Belanda yang dipekerjakan oleh tentara Jepang dalam pembangunan jalur rel dari Pekanbaru ke Muaro Sijunjung 80 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Kemudian, Wouter me­nye­rahkan bunga melati sebagai simbol hubungan sejarah antara Belanda dan Indonesia kepada Bupati Sijunjung. Ia juga mem­berikan sebuah buku dokumentasi berisi potret dan kisah singkat para mantan pekerja romusha.

“Kami yang hadir ini ada kaitannya dengan pekerja romusha, sebagian kami ada yang darah Indonesia dan ada yang lahir di Indonesia, kami menggunakan melati sebagai simbol hubungan diantara kami, sekarang saya ingin memberikan melati ini kepada bapak bupati,” tambahnya.

Ia menyebut, selama ini kisah tentang jalur kereta api maut itu hanya mereka dengar dari cerita keluarga dan dokumen sejarah. Namun kini, mereka dapat melihat langsung lokasi tempat para leluhur mereka pernah bekerja di bawah tekanan dan kekejaman perang.

“Ini pertama kalinya kami datang ke Sijunjung. Awalnya tujuan kami hanya untuk berziarah, tetapi ternyata kami seperti sedang berwisata karena alam Sijunjung sangat indah,” katanya.

Wouter juga menceritakan bahwa beberapa hari sebelumnya mereka telah menggelar upacara peringatan di Pekanbaru untuk mengenang ribuan romu­sha yang meninggal dunia saat pembangunan rel ke­reta api tersebut.

Tak hanya itu, setiap bulan Agustus di Belanda juga rutin dilaksanakan upacara mengenang kekejaman kerja paksa pada ma­sa Perang Dunia II.

Pihaknya berharap, me­lalui pemerintah daerah agar tetap menjaga dan melestarikan situs sejarah, alam dan budaya yang ada di Sijunjung agar dapat diwariskan kepada anak generasi mendatang. (ndo)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |