Airlangga Hartarto: Antisipasi Perang AS-Iran, Indonesia Amankan Pasokan Energi Non-Timur Tengah

15 hours ago 4

JAKARTA - Menjelang potensi gejolak akibat konflik Amerika Serikat dan Iran, Indonesia mengambil langkah strategis dengan mengamankan pasokan energi dari sumber-sumber alternatif di luar Timur Tengah. Keputusan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa Indonesia telah menjalin kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat, termasuk penandatanganan Agreement of Reciprocal Trade (ART). Melalui kesepakatan ini, pasokan energi dari AS menjadi salah satu pilar utama. Selain itu, PT Pertamina juga memiliki akses terhadap pasokan energi dari Venezuela, yang semakin memperkuat diversifikasi sumber energi negara.

"Kalau dari segi energi, karena kebetulan kita sudah tanda tangan ART (Agreement of Reciprocal Trade), memang suplai dari energi kita sudah juga melakukan MoU dengan Amerika Serikat dan juga Pertamina punya akses di Venezuela, " ujar Airlangga dalam konferensi pers Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (05/03/2026).

Pemerintah tidak tinggal diam dalam menghadapi ketidakpastian global. Pengalaman pahit akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik Rusia dan Ukraina telah menjadi pelajaran berharga. Airlangga menekankan bahwa Indonesia kini lebih siap menghadapi fluktuasi pasar.

Situasi ini, menurut Airlangga, memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, pemerintah berkomitmen menjaga subsidi energi agar beban masyarakat tidak bertambah. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas global justru berpotensi meningkatkan penerimaan negara.

"Di satu sisi itu yang terkait dengan subsidi kita jaga dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi ya kita akan lanjutkan. Dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau (harga) komoditas itu naik, " jelasnya.

Meskipun demikian, Airlangga mengakui bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi dampak penuh dari dinamika konflik Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia.

"Kita tentu melihat situasinya, masih too early to call, " tuturnya.

Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, investor cenderung lebih berhati-hati dan menahan ekspansi. Oleh karena itu, ketahanan dan resiliensi ekonomi menjadi faktor krusial yang harus didorong.

"Inilah yang harus kita dorong karena the new world juga membuat semua investasi akan melihat kembali, dan juga akan menahan karena dalam situasi seperti ini tentu daya tahan, resiliensi itu yang paling utama termasuk juga di sektor ekonomi, " kata Airlangga.

Dokumen kesepakatan dagang resiprokal antara Indonesia dan AS menguraikan komitmen pembelian komoditas energi dari Negeri Paman Sam senilai sekitar 15 miliar dolar AS. Rinciannya meliputi impor liquefied petroleum gas (LPG) senilai 3, 5 miliar dolar AS, minyak mentah sebesar 4, 5 miliar dolar AS, serta bensin hasil kilang senilai 7 miliar dolar AS. (PERS)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |