PARIWISATA DI PUSARAN PERANG ENERGI: Saatnya Indonesia Mengubah Arah Sebelum Selat Hormuz Mengubah Kita

9 hours ago 5

Oleh: Dr. H. Febby Dt. Bangso, SST.Par., M.Par., QRGP, CFA

(Alumni PPRA LXIII Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia)

Perang hari ini tidak selalu dimulai dengan dentuman bom. Ia bisa dimulai dari satu jalur laut sempit bernama Selat Hormuz.
Ketika ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat, dunia tahu apa yang dipertaruhkan: energi. Dan ketika energi terguncang, ekonomi global bergetar.
Indonesia mungkin jauh dari pusat konflik. Namun dalam sistem global yang saling terhubung, jarak geografis tidak pernah berarti jarak dampak.
Jika Selat Hormuz terganggu, harga minyak dunia melonjak. Dan ketika harga minyak melonjak, Indonesia tidak berdiri di luar pusaran. Kita berdiri di dalamnya.
Ketika Harga Minyak Naik, Kebijakan Bisa Berubah
Kenaikan harga minyak bukan sekadar angka di layar Bloomberg. Ia merembes pelan tapi pasti ke seluruh sendi ekonomi:
Biaya avtur meningkat
Harga logistik naik
Tarif transportasi terdorong
Harga pangan ikut terkerek
Inflasi menguat
Daya beli melemah
Sebagai negara yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi, setiap lonjakan harga minyak global akan memperberat beban fiskal. Subsidi tertekan. Ruang APBN menyempit. Prioritas anggaran bisa bergeser.
Dan di sinilah sering kali kita tidak menyadari satu hal:
krisis energi global bisa mengubah arah kebijakan domestik.

Pemerintah mungkin harus memilih antara menjaga subsidi, mempertahankan stabilitas harga, atau menggeser belanja pembangunan. Dalam kondisi seperti itu, sektor pariwisata kerap dianggap elastis dan bisa menyesuaikan diri.
Padahal justru di situlah letak kerentanannya.
Pariwisata: Industri yang Paling Cepat Terguncang

Dalam disertasi saya tentang Ketahanan Pariwisata: Studi Adaptasi dan Keberlanjutan di Provinsi Bali, saya menemukan satu pola penting:
Sektor pariwisata sangat responsif terhadap shock eksternal, tetapi juga memiliki kapasitas adaptif jika dikelola secara sistemik.

Bali membuktikan bahwa ketika krisis datang—baik terorisme, pandemi, maupun tekanan ekonomi global—ketahanan tidak dibangun dari promosi semata, tetapi dari:
Diversifikasi pasar
Adaptasi pelaku usaha
Dukungan kebijakan yang responsif
Stabilitas sosial dan keamanan

Namun krisis energi global memiliki karakter berbeda. Ia memukul dari hulu ke hilir secara simultan.

Jika harga minyak dunia melonjak signifikan:
Tiket penerbangan naik
Wisatawan jarak jauh menahan perjalanan
Pasar Eropa dan Amerika melemah

Wisata domestik tertekan akibat inflasi
Dampaknya tidak hanya pada hotel dan maskapai. Ia merembet ke UMKM, pekerja informal, hingga stabilitas ekonomi daerah berbasis pariwisata.
Geotourism dalam Geopolitik: Membaca Ruang, Membaca Risiko
Geotourism selama ini sering dipersempit sebagai wisata berbasis geologi atau geopark. Padahal dalam konteks geopolitik global, geotourism adalah kemampuan membaca ruang strategis bangsa dalam peta dunia yang berubah cepat.
Indonesia berada di simpul Indo-Pasifik. Stabilitas kita adalah aset. Namun stabilitas itu harus dikelola.

Ketika dunia mencari destinasi aman di tengah konflik global, Indonesia memiliki peluang menjadi jangkar stabilitas kawasan. Tetapi peluang itu hanya bisa diambil jika kita mampu membaca risiko sejak dini.
Di sinilah urgensi peran negara menjadi nyata.
Mengapa Badan Intelijen Negara Harus Segera Bertindak
Badan intelijen bukan hanya bertugas membaca ancaman militer. Ia juga membaca ancaman ekonomi strategis.
Potensi penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak dunia adalah ancaman non-tradisional yang dampaknya bisa meluas:
Tekanan fiskal
Pelemahan rupiah
Penurunan konsumsi
Gangguan stabilitas sosial
Jika intelijen tidak memetakan skenario kenaikan harga minyak dan implikasinya terhadap sektor-sektor strategis—termasuk pariwisata—maka kebijakan akan selalu reaktif.
BIN harus duduk bersama Kementerian Pariwisata, Kementerian Keuangan, dan kementerian teknis lainnya untuk:
Menyusun skenario harga minyak dan dampaknya terhadap avtur.
Menghitung risiko terhadap kunjungan wisatawan mancanegara.
Memetakan pasar yang paling rentan terhadap resesi global.
Menyusun strategi pengalihan pasar sebelum terjadi penurunan tajam.
Ini bukan sekadar koordinasi administratif. Ini arsitektur ketahanan nasional.

Ketahanan Energi, Pangan, Ekonomi, dan Pariwisata: Satu Sistem
Kenaikan harga minyak memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi pangan.
Harga pangan naik, daya beli turun.

Daya beli turun, konsumsi wisata domestik melemah.
Wisata melemah, devisa turun.
Devisa turun, tekanan terhadap ekonomi nasional meningkat.

Rantai ini saling terhubung.
Ketahanan energi menjaga stabilitas biaya.
Ketahanan pangan menjaga stabilitas sosial.
Ketahanan ekonomi menjaga ruang fiskal.
Ketahanan pariwisata menjaga devisa dan lapangan kerja.
Jika satu rapuh, seluruh sistem ikut teruji.

Mengubah Arah Sebelum Dipaksa Berubah
Perang energi global mungkin terjadi jauh dari Jakarta. Tetapi dampaknya bisa mengubah arah kebijakan pemerintah dalam hitungan bulan.
Jika kita menunggu hingga harga minyak menembus batas ekstrem, kita akan dipaksa menyesuaikan diri dalam kondisi tertekan.

Namun jika kita membaca risiko sejak dini, kita bisa mengubah arah secara terencana:
Memperkuat pasar regional dan domestik
Mengembangkan destinasi berbasis pangan lokal
Mendorong efisiensi energi di sektor pariwisata
Menyiapkan skenario fiskal adaptif
Inilah pelajaran dari studi ketahanan pariwisata di Bali: adaptasi bukan reaksi spontan, tetapi hasil perencanaan strategis.

Penutup: Ketahanan Bukan Retorika
Selat Hormuz mungkin ribuan kilometer dari Indonesia. Tetapi harga minyak dunia bisa mengubah arah APBN, arah kebijakan, dan arah pariwisata nasional.

Ketahanan bukan slogan. Ia adalah kesiapan membaca dunia sebelum dunia mengguncang kita.
Jika sinergi antara Badan Intelijen Negara dan Kementerian Pariwisata dibangun hari ini, maka Indonesia tidak hanya bertahan dari krisis energi global.

Kita bisa menjadikan momentum ini sebagai titik balik:

mengubah pariwisata dari sektor yang reaktif menjadi sektor strategis dalam kerangka ketahanan nasional.

Karena dalam dunia yang penuh ketidakpastian, yang menentukan masa depan bukan hanya sumber daya.
Tetapi kecerdasan membaca risiko — sebelum risiko itu membaca kita.(*)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |