ILUSTRASI— Ramadhan.JAKARTA, METRO— Ibadah selain menjalankan kewajiban umat manusia kepada Yang Mahakuasa, juga harus memberikan dampak sosial. Begitu juga dengan ibadah-ibadah Ramadhan, selama bulan suci umat Islam tidak hanya sekadar berpuasa juga memiliki dampak langsung pada sosial.
Anggota Ombudsman RI Hery Susanto mengatakan, Ramadhan merupakan momentum penting untuk memperkuat keseimbangan antara ibadah spiritual dan tanggung jawab sosial. Nilai keberagamaan tidak hanya tercermin dari hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dari kepedulian terhadap sesama.
“Ramadhan mengajarkan bahwa keberagamaan tidak berhenti pada ibadah personal. Ibadah harus melahirkan kepekaan sosial. Ketika kita mampu merasakan kesulitan orang lain dan tergerak untuk membantu, di situlah nilai kemanusiaan dan keimanan berjalan bersama,” ujar Hery.
Pandangan itu diungkapkan Hery saat hadir dalam Kajian Ramadhan 1447 H di Masjid Endan Andansih, Purwakarta, Sabtu (14/3). Kajian itu berupa santunan anak yatim dan dhuafa. Tidak hanya itu, kajian Ramadhan diisi juga dengan penyaluran bantuan sembako kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk kepedulian sosial.
Hery menilai kegiatan berbagi di Ramadhan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar bantuan material. Menurut dia, kegiatan sosial yang melibatkan berbagai elemen masyarakat mampu memperkuat jaringan solidaritas serta membangun kepercayaan di tengah kehidupan sosial.
“Ketika masyarakat, organisasi, dan para tokoh berkumpul dalam satu gerakan sosial, yang terbangun bukan hanya bantuan materi. Yang tumbuh adalah rasa saling percaya, empati, dan solidaritas yang menjadi fondasi kuat bagi kehidupan berbangsa,” katanya.
Dia juga menyoroti situasi global yang penuh dinamika menuntut masyarakat untuk memperkuat persatuan dan ketahanan sosial. Di tengah berbagai tantangan dunia, masyarakat Indonesia perlu menjaga harmoni dan memperkuat kepedulian sebagai kekuatan kolektif bangsa.
“Kita menyaksikan dunia yang tidak selalu stabil. Karena itu masyarakat harus terus memperkuat persatuan dan kepedulian. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang warganya saling menjaga dan saling membantu,” ungkapnya.
Selain menekankan aspek sosial, masyarakat diajak menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat kualitas spiritual dan ketenangan batin. Ketenangan jiwa akan mendorong seseorang untuk lebih bijak dalam bersikap serta lebih mudah menebarkan kebaikan kepada sesama.
“Ketenangan jiwa membuat seseorang mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih bijak. Dari ketenangan itulah lahir sikap empati, kepedulian, dan keinginan untuk memberi manfaat bagi orang lain,” jelasnya.
Dia berharap kegiatan keagamaan yang disertai aksi sosial seperti santunan dan pembagian sembako dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, kegiatan semacam ini bukan hanya membantu masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong yang menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia. (jpg)

4 hours ago
4

















































