Bupati Agam, Ir H Benni Warlis MM Dt Tan Batuah didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam Ir. Arief Restu, M.Si berbincang bincang dengan Gubernur Sumbar dalam penanaman padi serentak nasional di Kecamatan Tanjung Raya.
PEMERINTAH Kabupaten Agam melalui satuan tugas pemulihan dan rehabilitasi, terus mempercepat pemulihan lahan pertanian yang rusak akibat pasca bencana Hidrometeorologi yang melanda 16 kecamatan di Kabupaten Agam sejak akhir 2025 hingga Mei 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam Ir. Arief Restu, M.Si mengatakan, Agam menerapkan program inovasi “Sawah Pokok Murah” (SPM) yang memungkinkan panen tiga kali setahun, yang didukung penuh oleh Badan Pangan Nasional dan Komisi IV DPR RI untuk meningkatkan swasembada pangan.
Ia menjelaskan, berdasarkan data dari PPID Kabupaten Agam, Agam terus memacu produktivitas lahan sawah dengan memanfaatkan teknologi untuk memanen padi lebih efisien.
“Selain padi, Kabupaten Agam juga menjadi penghasil penting untuk komoditas perkebunan di Sumatera Barat, terutama kelapa sawit, gambir, kakao, dan kopi, yang sedang ditingkatkan hilirisasinya pada tahun 2025,”ujar Arief.
Disamping itu menurut Arief, Agam berpartisipasi dalam penanaman padi serentak nasional di lahan seluas 50.000 hektar, yang dipusatkan di Kecamatan Tanjung Raya, untuk simbol pemulihan. Tahap pertama bantuan sebesar Rp29 miliar lebih dialokasikan khusus untuk pemulihan sektor pertanian di Kabupaten Agam.
“Percepatan rehabilitasi sedang berjalan, difokuskan pada pemulihan lahan sawah yang sempat terendam dan rusak akibat banjir bandang serta longsor. Salah satu titik pemulihan intensif berada di Nagari Koto Kaciak, Tanjung Raya, yang terdampak cukup signifikan,”jelasnya
Arief menyebutkan, pemulihan dilakukan sebagai respons terhadap bencana hidrometeorologi yang sempat merusak lahan pertanian di Kabupaten Agam. Selain fisik lahan, pendampingan mental dan penguatan motivasi petani juga dilakukan agar mereka kembali bersemangat mengolah lahan.
Ia menargetkan lahan sawah kembali produktif untuk menjaga stabilitas produksi pangan daerah. Upaya ini bertujuan untuk memulihkan mata pencaharian petani dan mengembalikan Agam sebagai lumbung pangan yang produktif pasca bencana.
“Makanya berbagai serta inovasi dihadirkan untuk percepatan pemulihan lahan sawah pasca bencana. Khusus untuk kegiatan rehabilitasi sawah, dikerjakan secara swakelola oleh 29 kelompok tani, dengan luas lahan mencapai 311 hektar,”ungkap Arief.
Proses ini, kata Arief, telah melalui tahapan administrasi seperti pendataan dan verifikasi lahan terdampak, verifikasi calon petani dan calon lokasi (CP/CL), penyusunan rencana teknis, hingga pencairan bantuan kepada kelompok tani. “Kita juga sudah mengajukan usulan untuk penambahan rehabilitasi sawah seluas 94 hektar,”tambahnya.
Sedangkan melalui program Optimasi Lahan, difokuskan untuk perbaikan infrastruktur seperti irigasi perpompaan, irigasi tersier, dam parit, dan lain sebagainya yang mencakup luasan lahan sawah seluas 294 hektar. Optimasi Lahan juga dikerjakan secara swakelola yang melibatkan 20 kelompok tani.
Hal ini merupakan komitmen dari Pemerintah Kabupaten Agam untuk segera menyelesaikan seluruh proses perbaikan dan pemulihan lahan sawah, sebagai bagian dari upaya menjaga ekonomi masyarakat dan memantapkan ketahanan pangan. (***)

1 day ago
16

















































