Beranda LAINNYA WISATA Melangkah ke Identitas Dunia: Mentawai Luncurkan City Branding, Menandai Babak Baru Pariwisata Sumbar
WISATA
Melangkah ke Identitas Dunia: Mentawai Luncurkan City Branding, Menandai Babak Baru Pariwisata Sumbar
JAKARTA, METRO – Di panggung megah pusat perbelanjaan ibu kota, nama Kepulauan Mentawai akan disebut bukan sebagai daerah terpencil di barat Sumatra, melainkan sebagai wilayah yang tengah menata masa depan, Kamis malam, 7 Mei 2026, Mentawai dijadwalkan meluncurkan city branding resminya dalam forum ANTAM Presents Jakarta Marketing Week 2026 di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta.
Peluncuran itu menghadirkan tokoh pemasaran nasional Hermawan Kartajaya sebagai moderator, serta Bupati Mentawai, Rinto Wardana sebagai pembicara utama. Pada saat yang sama, publik juga akan disuguhi penampilan Tari Turuk Langgai dan kehadiran Sikerei, dua simbol budaya yang merepresentasikan akar peradaban Mentawai.
Bagi sebagian daerah, city branding kerap berhenti pada slogan dan logo. Namun bagi Mentawai, peluncuran ini memiliki makna lebih dalam, usaha memperkenalkan jati diri, membangun kebanggaan warga, sekaligus memposisikan diri di peta pariwisata global.
Mentawai sesungguhnya telah lama dikenal dunia. Ombak di perairannya menjadi tujuan para peselancar internasional sejak puluhan tahun lalu. Nama Mentawai beredar dari komunitas selancar ke komunitas selancar lain, lebih dahulu dikenal mancanegara ketimbang sebagian wilayah lain di Indonesia. Namun pengakuan itu selama ini tumbuh secara alami, belum sepenuhnya ditopang identitas resmi yang terarah.
Melalui branding baru yang mengusung narasi The Sacred Ground of Surfing, Mentawai hendak menegaskan posisi uniknya, bukan sekadar tempat berselancar, tetapi ruang budaya dan alam yang memiliki hubungan spiritual dengan laut, ombak dan tradisi masyarakatnya.
Konsep seperti ini sejalan dengan pendekatan yang selama ini diperkenalkan Hermawan Kartajaya. Menurut pakar pemasaran tersebut, city branding harus dibangun dari keunikan yang tak dimiliki daerah lain. Daerah tidak cukup hanya lebih baik, tetapi harus berbeda, relevan, dan memiliki cerita yang kuat.
Dalam konteks itu, Mentawai memiliki modal langka. Gugusan pulau eksotis, hutan tropis, tradisi leluhur yang masih hidup, serta reputasi ombak kelas dunia adalah kombinasi yang sulit ditiru destinasi lain.
Ketua Tim Pengembangan dan Pemberdayaan Desa Wisata Sumatera Barat, M. Zuhrizul, menilai momentum ini dapat menjadi titik balik kebangkitan pariwisata Sumatra Barat.
Menurutnya, setelah daerah menghadapi berbagai tekanan akibat bencana dan perlambatan sektor wisata, Mentawai berpotensi tampil sebagai motor pertumbuhan baru.
Ia mendorong agar pemerintah pusat memperbanyak agenda nasional maupun internasional di Sumatra Barat. Menurut dia, eksposur global sangat penting untuk mengangkat daya saing destinasi.
Namun branding, katanya, harus berjalan seiring dengan perbaikan akses.
Salah satu usulan yang disuarakan adalah pengembangan Bandara Rokot agar berstatus internasional. Dengan konektivitas udara yang lebih baik, wisatawan mancanegara tidak lagi menghadapi jalur panjang dan berlapis untuk mencapai Mentawai.
Jika akses terbuka, dampaknya diyakini akan menjalar ke banyak sektor, hotel tumbuh, transportasi bergerak, UMKM hidup, dan lapangan kerja baru tercipta bagi anak-anak muda Sumatra Barat.
“Menjadikan Mentawai sebagai episentrum pariwisata Indonesia bagian barat adalah mimpi besar Sumatera Barat,” ujar Zuhrizul.
Di balik kalimat itu tersimpan harapan yang sederhana namun penting: agar daerah kepulauan yang lama berada di pinggir peta pembangunan, kini berdiri di tengah panggung perhatian.
Peluncuran city branding Mentawai di Jakarta bukan akhir dari proses, melainkan awal pekerjaan panjang. Sebab identitas yang diumumkan di panggung harus dibuktikan di lapangan melalui pelayanan yang baik, lingkungan yang terjaga, budaya yang dihormati, dan kesejahteraan warga yang meningkat.
Jika itu berhasil, maka Mentawai tidak hanya dikenal karena ombaknya. Ia akan dikenang sebagai daerah yang mampu mengubah potensi alam menjadi masa depan. (Jef)

6 hours ago
4

















































