Menpar Terpikat Ranah Minang: Dari Koto Gadang Lahir Gagasan Besar

4 hours ago 8

Beranda BERITA UTAMA Menpar Terpikat Ranah Minang: Dari Koto Gadang Lahir Gagasan Besar

WISATABERITA UTAMA

Menpar Terpikat Ranah Minang: Dari Koto Gadang Lahir Gagasan Besar

JAKARTA, METRO – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana tampak tak sekadar menjalani agenda resmi saat berkunjung ke Sumatra Barat. Di tiap persinggahan, ia seperti diajak membaca lembar demi lembar cerita tentang alam, sejarah, dan manusia yang menjaga tradisi di Ranah Minang.

Perjalanan dimulai di Ngarai Sianok, jurang hijau yang membelah Bukittinggi. Dari tepian lembah itu, Widiyanti menikmati pemandangan yang selama ini menjadi kartu pos pariwisata Sumatra Barat. Bersama Wali Kota Ramlan Nurmayias, ia meninjau potensi kawasan yang tak pernah kehilangan pesonanya.

Dari bentang alam, rombongan bergeser ke Lubang Jepang. Lorong sempit dan dinding lembap peninggalan masa perang itu memberi suasana berbeda. Di tempat yang menyimpan jejak getir sejarah tersebut, Menteri menilai generasi hari ini perlu melihat kembali ketangguhan bangsa pada masa lalu.

Namun kunjungan yang paling hangat justru terasa di Desa Wisata Koto Gadang. Di nagari yang dikenal rapi dan kaya tradisi itu, Widiyanti disambut Wakil Bupati Muhammad Iqbal melalui prosesi merobek daun sirih, simbol persaudaraan dan penghormatan dalam adat Minangkabau.

Di Balai Adat, ia berbincang dengan pelaku wisata, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Tak ada jarak berlebihan. Pembicaraan mengalir tentang harapan, peluang, hingga cara menjaga desa tetap hidup tanpa kehilangan jati diri.

Widiyanti juga menulis pesan di buku tamu bersejarah yang pernah ditandatangani Soekarno. Kalimat yang ia tinggalkan sederhana, tapi mengandung makna panjang.

“Dari Koto Gadang, kita belajar bahwa desa kecil dapat melahirkan gagasan besar untuk Indonesia,” ujarnya dikutip dari laman media sosial pribadi Widiyanti, Sabtu, 2 Mei 2026.

Pesan itu terasa pas untuk Koto Gadang, kampung yang sejak lama melahirkan banyak tokoh penting bangsa.

Agenda berikutnya membawa Menteri ke Yayasan Kerajinan Amai Setia, lembaga yang berdiri sejak 1911 dan didirikan Roehana Koeddoes. Di ruang-ruang kerja sederhana, para perempuan tekun menenun dan menyulam. Di sana, warisan budaya tak disimpan di museum, melainkan hidup di tangan-tangan terampil.

Kunjungan ditutup di Istano Basa Pagaruyung. Rumah gadang raksasa itu berdiri megah dengan gonjong menjulang ke langit. Widiyanti mengenakan busana adat Minangkabau, sebuah gestur kecil yang menunjukkan hormat pada budaya setempat. Bupati Eka Putra menyambut rombongan dan berharap lawatan itu ikut mengangkat promosi wisata daerah.

Di akhir perjalanan, Menteri menyebut Sumatra Barat memiliki potensi besar yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan. Pernyataan resmi itu penting. Tapi yang lebih terasa adalah kesan lain: di provinsi ini, pariwisata bukan hanya soal tempat indah, melainkan tentang orang-orang yang menjaga cerita tetap menyala. (Jef)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |