Beranda METRO PADANG Reses di Kuranji, Iskandar: Smart Surau Banyak Kendala, Kehadiran Guru Minim
METRO PADANG
SUDAH BISA SEKOLAH KEMBALI— Dio Patuta (18) dan Afil Mulyadi (17), kini sudah bisa bernapas lega. Keduanya kembali fokus mengejar mimpi mereka tanpa harus dibayangi ketakutan akan tagihan yang tak mampu mereka bayar, setelah Wali Kota Padang Fadly Amran turun tangan dan mengatasi persoalan tersebut.
PADANG, METRO—Masa reses sidang III tahun 2026 menjadi momentum krusial bagi anggota DPRD Kota Padang, Iskandar, M.H.I, untuk memotret langsung kondisi pendidikan karakter di tengah masyarakat. Dalam rangkaian reses yang berlangsung 1-5 Mei 2026 di Kecamatan Kuranji, politisi senior ini fokus menyoroti optimalisasi program “Kembali ke Surau” dan peningkatan kualitas tenaga pendidik Al-Qur’an.
Bertempat di Kemuning Kafe Ampang dan Masjid Al Jamaah, Iskandar berdialog maraton dengan berbagai elemen, mulai dari pengurus masjid, guru TPQ, tokoh pemuda Karang Taruna, hingga pengurus Muhammadiyah dan Aisiyah. Fokus utama diskusi tertuju pada tantangan implementasi program unggulan Wali Kota Padang, Fadly Amran, yakni wajib mengaji bagi siswa SMP melalui Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha (MDTW).
Pengurus BKS Kelurahan Ampang, Roni Putra Yanto, menyampaikan kegelisahan warga terkait kepastian regulasi. Warga mendesak agar Peraturan Wali Kota (Perwako) terkait kewajiban mengaji bagi anak usia SMP segera diperkuat agar ekosistem “Kembali ke Surau” berjalan efektif.
“Masyarakat ingin anak-anak SMP kembali ke masjid dan mushalla. Kami berharap regulasi ini segera klop agar program MDTW dan TQA (Ta’limul Qur’an lil Aulad) tidak sekadar formalitas,” ujar Roni.
Selain regulasi, masalah kompetensi guru dan kehadiran tenaga pendidik dalam program Smart Surau menjadi catatan merah. Roni menyebut adanya kendala teknis seperti absennya sistem barcode hingga minimnya kehadiran guru dalam koordinasi di lapangan.
Merespons aspirasi tersebut, Iskandar, M.H.I menekankan bahwa kunci keberhasilan pendidikan karakter terletak pada sinkronisasi antara pengurus masjid dan guru. Ia berjanji akan mengawal peningkatan mutu guru TPQ/TQA melalui bimbingan teknis (Bimtek) dan pelatihan khusus.
“Kita mendengar aspirasi bahwa ada guru yang kualitasnya perlu di-upgrade, bahkan untuk menjadi imam saja masih terkendala. Ini masalah serius. Kita akan ajak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengonsultasikan hal ini. Jika butuh pelatihan, kita akan buatkan anggarannya lewat pokok-pokok pikiran (Pokir) untuk peningkatan mutu,” tegas Iskandar.
Iskandar juga menyoroti pentingnya standarisasi perekrutan guru oleh pengurus masjid. Menurutnya, visi antara guru dan pengurus harus selaras agar program Smart Surau tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Tidak hanya guru dan pengurus, peran orang tua adalah kunci ketiga. Tanpa dukungan orang tua di rumah, program Smart Surau sehebat apa pun tidak akan maksimal,” tambahnya.
Seluruh aspirasi yang terjaring selama lima hari reses ini, lanjut Iskandar, akan diformulasikan menjadi rekomendasi resmi DPRD untuk disampaikan kepada Pemerintah Kota Padang. Ia berkomitmen untuk terus mengawal agar kualitas pendidikan agama di Kecamatan Kuranji melahirkan generasi yang tidak hanya pintar secara akademis, tapi juga kokoh secara spiritual. (ped)

2 days ago
25

















































