Tak Hanya Ibadah, Puasa Ramadhan Terbukti Baik untuk Kesehatan Mental

18 hours ago 8
ILUSTRASI— Puasa ramadhan yang bisa menjadi refleksi kesehatan mental.

BULAN Ramadhan selama ini identik dengan ibadah fisik berupa menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun le­bih dari itu, puasa Rama­d­han juga memberikan dam­pak signifikan terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis seseorang.

Sejumlah penelitian ilmiah dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa praktik puasa memiliki pengaruh positif terhadap kondisi emosi, fungsi kognitif, hingga ketahanan mental. Ramadhan pun dinilai sebagai momentum transformasi batin yang mampu meningkatkan ku­alitas kesehatan jiwa secara nyata.

Berbagai studi me­ngung­kapkan bahwa perubahan pola makan, pe­ngaturan waktu istirahat, serta peningkatan aktivitas ibadah dan refleksi diri selama Ramadhan berkontribusi terhadap perasaan tenang, stabil, dan puas. Hal ini menegaskan bahwa manfaat puasa tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga berperan sebagai mekanisme pemulihan mental yang penting.

Sayangnya, masih ba­nyak masyarakat yang memandang puasa semata sebagai kewajiban ritual, tanpa menyadari potensi besar yang dimilikinya dalam menyelaraskan pikiran dan tubuh agar berfungsi lebih optimal secara psikologis.

Dikutip dari sejumlah sumber kesehatan seperti Alodokter dan Halodoc, berikut tujuh manfaat puasa Ramadhan bagi kesehatan mental yang didukung oleh penelitian ilmiah dan jurnal terpercaya.

Salah satunya adalah kemampuan puasa dalam menurunkan tingkat stres. Berdasarkan kajian yang dimuat oleh Universitas Gadjah Mada berjudul Discovering the Advantages of Fasting for Mental He­alth, puasa dinilai memiliki efek langsung dalam membantu meredakan stres. Psikiater yang juga Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Psikiatri FK-KMK UGM menjelaskan bahwa pengaturan jadwal makan selama puasa mem­bantu membentuk pola pikir yang lebih teratur.

“Ketika pola makan le­bih tertata, cara berpikir juga menjadi lebih sis­tematis. Emosi pun lebih mudah dikendalikan, sehingga stres dapat ber­ku­rang,” jelasnya.

Selain itu, puasa diketahui membantu menstabilkan hormon kortisol yang berkaitan erat dengan stres, sehingga memberikan efek menenangkan bagi pikiran.

Manfaat lain yang di­rasakan adalah me­ning­katnya suasana hati. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition Health & Aging menunjukkan bahwa peserta yang menjalani puasa intermi­ten selama tiga bulan me­ngalami perbaikan mood, serta penurunan ketegangan, kemarahan, dan kebingungan. Studi lain pada 2018 juga menemukan bahwa puasa berkaitan de­ngan peningkatan kesejah­teraan emosional dan pe­nurunan gejala depresi.

Puasa juga berdampak positif pada fungsi kognitif, khususnya daya ingat. Pe­nelitian dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics menyebutkan bahwa pembatasan waktu makan secara signifikan meningkatkan me­mori kerja dan kemampuan perencanaan setelah empat minggu menjalani puasa intermiten.

Tak hanya itu, Rama­dhan juga menjadi sarana untuk menjauhkan diri dari kebiasaan negatif. Puasa melatih pengendalian diri, kesabaran, serta disiplin, sehingga membantu seseorang mengurangi perilaku emosional seperti marah berlebihan, ber­tengkar, atau mengikuti hawa nafsu.

Dari sisi kesehatan men­tal, puasa turut berperan dalam menurunkan risiko depresi. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya produksi protein otak bernama brain-derived neurotrophic factor (BD­NF), yang berfungsi menjaga kesehatan sel saraf dan kestabilan suasana hati.

Puasa juga mengaktifkan proses autophagy, yak­ni mekanisme pembersihan sel-sel rusak di dalam tubuh yang berpotensi memicu penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Proses ini membantu regenerasi sel yang lebih sehat, termasuk pada sistem saraf.

Manfaat lainnya adalah terlatihnya kontrol diri. Dengan menahan keinginan makan dan minum demi tujuan ibadah, seseorang belajar mengendalikan hasrat dan fokus pada tujuan jangka panjang. Ketika tujuan tersebut tercapai, rasa percaya diri dan kepuasan diri pun me­ning­kat.

Melihat berbagai manfaat tersebut, anggapan bahwa puasa Ramadhan baik untuk kesehatan mental bukanlah sekadar mitos. Dengan menjalankan puasa secara disiplin dan sesuai tuntunan, umat Islam tidak hanya memperoleh keberkahan spiritual, tetapi juga peningkatan kualitas kesehatan jiwa selama dan setelah bulan suci. (*/rom)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |