ILUSTRASI— Puasa ramadhan yang bisa menjadi refleksi kesehatan mental.BULAN Ramadhan selama ini identik dengan ibadah fisik berupa menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun lebih dari itu, puasa Ramadhan juga memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis seseorang.
Sejumlah penelitian ilmiah dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa praktik puasa memiliki pengaruh positif terhadap kondisi emosi, fungsi kognitif, hingga ketahanan mental. Ramadhan pun dinilai sebagai momentum transformasi batin yang mampu meningkatkan kualitas kesehatan jiwa secara nyata.
Berbagai studi mengungkapkan bahwa perubahan pola makan, pengaturan waktu istirahat, serta peningkatan aktivitas ibadah dan refleksi diri selama Ramadhan berkontribusi terhadap perasaan tenang, stabil, dan puas. Hal ini menegaskan bahwa manfaat puasa tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga berperan sebagai mekanisme pemulihan mental yang penting.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang memandang puasa semata sebagai kewajiban ritual, tanpa menyadari potensi besar yang dimilikinya dalam menyelaraskan pikiran dan tubuh agar berfungsi lebih optimal secara psikologis.
Dikutip dari sejumlah sumber kesehatan seperti Alodokter dan Halodoc, berikut tujuh manfaat puasa Ramadhan bagi kesehatan mental yang didukung oleh penelitian ilmiah dan jurnal terpercaya.
Salah satunya adalah kemampuan puasa dalam menurunkan tingkat stres. Berdasarkan kajian yang dimuat oleh Universitas Gadjah Mada berjudul Discovering the Advantages of Fasting for Mental Health, puasa dinilai memiliki efek langsung dalam membantu meredakan stres. Psikiater yang juga Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Psikiatri FK-KMK UGM menjelaskan bahwa pengaturan jadwal makan selama puasa membantu membentuk pola pikir yang lebih teratur.
“Ketika pola makan lebih tertata, cara berpikir juga menjadi lebih sistematis. Emosi pun lebih mudah dikendalikan, sehingga stres dapat berkurang,” jelasnya.
Selain itu, puasa diketahui membantu menstabilkan hormon kortisol yang berkaitan erat dengan stres, sehingga memberikan efek menenangkan bagi pikiran.
Manfaat lain yang dirasakan adalah meningkatnya suasana hati. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition Health & Aging menunjukkan bahwa peserta yang menjalani puasa intermiten selama tiga bulan mengalami perbaikan mood, serta penurunan ketegangan, kemarahan, dan kebingungan. Studi lain pada 2018 juga menemukan bahwa puasa berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan emosional dan penurunan gejala depresi.
Puasa juga berdampak positif pada fungsi kognitif, khususnya daya ingat. Penelitian dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics menyebutkan bahwa pembatasan waktu makan secara signifikan meningkatkan memori kerja dan kemampuan perencanaan setelah empat minggu menjalani puasa intermiten.
Tak hanya itu, Ramadhan juga menjadi sarana untuk menjauhkan diri dari kebiasaan negatif. Puasa melatih pengendalian diri, kesabaran, serta disiplin, sehingga membantu seseorang mengurangi perilaku emosional seperti marah berlebihan, bertengkar, atau mengikuti hawa nafsu.
Dari sisi kesehatan mental, puasa turut berperan dalam menurunkan risiko depresi. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya produksi protein otak bernama brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yang berfungsi menjaga kesehatan sel saraf dan kestabilan suasana hati.
Puasa juga mengaktifkan proses autophagy, yakni mekanisme pembersihan sel-sel rusak di dalam tubuh yang berpotensi memicu penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Proses ini membantu regenerasi sel yang lebih sehat, termasuk pada sistem saraf.
Manfaat lainnya adalah terlatihnya kontrol diri. Dengan menahan keinginan makan dan minum demi tujuan ibadah, seseorang belajar mengendalikan hasrat dan fokus pada tujuan jangka panjang. Ketika tujuan tersebut tercapai, rasa percaya diri dan kepuasan diri pun meningkat.
Melihat berbagai manfaat tersebut, anggapan bahwa puasa Ramadhan baik untuk kesehatan mental bukanlah sekadar mitos. Dengan menjalankan puasa secara disiplin dan sesuai tuntunan, umat Islam tidak hanya memperoleh keberkahan spiritual, tetapi juga peningkatan kualitas kesehatan jiwa selama dan setelah bulan suci. (*/rom)

18 hours ago
8

















































