Akhir Drama Super League?, Madrid dan UEFA Sepakat Akhiri Sengketa

17 hours ago 7
ANGKAT TROFI— Real Madrid saat juara Liga Champions 2021/2022.

REAL MADRID dan UEFA akhirnya memilih jalur rekonsiliasi setelah bertahun-tahun bersitegang akibat proyek European Super League yang sempat mengguncang tatanan sepak bola Eropa. Kedua belah pihak memastikan telah mencapai kesepakatan untuk me­ngakhiri seluruh sengketa hukum yang selama ini bergulir.

Perdamaian ini menandai babak baru dalam hubungan keduanya. Real Madrid sebe­lumnya menjadi klub terakhir yang masih bertahan dalam gagasan liga tandingan tersebut. Sementara Barcelona, yang sempat berada dalam barisan pendukung, telah lebih dulu menarik diri dan kembali menjalin kerja sama dengan UEFA serta asosiasi klub-klub Eropa.

Ketegangan memuncak pa­da Oktober 2025 saat Real Madrid mengajukan gugatan ganti rugi terhadap UEFA. Langkah itu diambil setelah UEFA kalah dalam proses banding di pengadilan. Pengadilan Provinsi Madrid kala itu menyatakan UEFA, bersama Federasi Se­pak Bola Spanyol dan La Liga, dianggap melakukan praktik anti-kompetitif karena melarang klub mengikuti kompetisi di luar struktur resmi mereka.

Sebelumnya, pada 2023, Mahkamah Eropa juga memutuskan bahwa larangan terhadap klub yang ingin ambil bagian dalam Super League bertentangan dengan hukum Uni Eropa. Putusan tersebut sempat membuka peluang bagi kebangkitan kembali kompetisi alternatif tersebut.

Namun dalam perkemba­ngan terbaru, UEFA, European Football Clubs (EFC), dan Real Madrid menyampaikan per­nyataan bersama bahwa mereka telah menemukan titik temu. Kesepakatan ini ditegaskan dibuat demi kepentingan se­pak bola klub di Eropa secara keseluruhan.

Beberapa poin utama yang menjadi dasar kesepahaman meliputi penghormatan terhadap prinsip merit olahraga, komitmen menjaga keberlanjutan finansial klub dalam jangka panjang, serta peningkatan pengalaman suporter melalui pemanfaatan teknologi.

Kesepakatan tersebut juga disebut menjadi fondasi untuk mengakhiri seluruh proses hukum yang sebelumnya berjalan di berbagai tingkat peradilan.

Sebagai informasi, European Super League pertama kali diumumkan pada 2021 dengan dukungan 12 klub elite Eropa. Namun proyek itu langsung menuai gelombang penolakan luas dari suporter dan berbagai pemangku kepentingan. Enam klub Premier League bahkan mundur hanya dalam tiga hari, membuat fondasi kompetisi tersebut goyah sejak awal.

Upaya menghidupkan kem­bali proyek ini sempat muncul pada akhir 2024 melalui konsep baru bertajuk Unify League yang dirancang melibatkan 96 klub dalam empat divisi. Akan tetapi, gagasan tersebut tidak mendapat dukungan signifikan.

Hingga kini belum ada per­nyataan resmi apakah Real Madrid sepenuhnya meninggalkan proyek Super League. Meski demikian, tercapainya kesepakatan dengan UEFA menjadi sinyal kuat bahwa hubungan kedua pihak mulai mencair. Sepak bola Eropa pun berpeluang memasuki fase yang lebih stabil setelah melewati periode panjang penuh dinamika dan ketegangan. (*/rom)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |