Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis, Kandidat Penerima Piala Abiyakta Tahun 2026

5 hours ago 3
KANDIDAT—Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis menjadi kandidat kuat penerima Piala Abiyakta tahun 2026 dari Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat .

PDG.PARIAMAN, METRO–Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis menjadi kandidat kuat penerima piala abiyakta tahun 2026 dari anugerah kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pusat yang rencananya akan diserahkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026.

Peluang tersebut me­nguat setelah John Kenedy Azis mempresentasikan program unggulan ber­tajuk penguatan keragaman ekspresi budaya dan interaksi budaya inklusif di Kabupaten Padangpariaman melalui gerakan 100 festival dalam forum penilaian Anugerah Kebudayaan P­WI Pusat yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, kemarin

Dalam forum prestisius tingkat nasional itu, John Kenedy Azis memaparkan visi strategis pembangu­nan kebudayaan di hadapan dewan juri : Ahmad Munir (Ketua PWI Pusat), SudiwobTedjo (Budayawan Nasional), Dr. Nungki Kusumastuti (Akademisi), Yusuf Susilo Hartono (Wartawan) dan Agus Dermawan T. Ia tampil didampingi sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, seperti Kepala Dinas Pendidikan dan Kebuda­yaan Hendri, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Anton Wira Tanjung, Asisten I Setdakab Rudi Rahmad, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Heri Sugianto, serta Plt Kabag Prokopim Risca Dianis.

Kehadiran jajaran OPD tersebut, menurut John Kenedy Azis, menegaskan bahwa kebijakan kebuda­yaan di Padangpariaman merupakan kerja kolektif lintas sektor, bukan sekadar gagasan personal kepala daerah. Turut mendampingi secara langsung dalam sidang forum anu­gerah di Aula Dewan Pers Jakarta, Kepala Dinas Kominfo Padangpariaman Zahirman.

Dalam paparannya, John Kenedy Azis menegaskan bahwa pembangunan dae­rah tidak boleh tercerabut dari akar sejarah dan identitas lokal. Ia menilai budaya bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan energi sosial dan ekonomi masa depan.

“Kami meyakini, kabupaten yang luas ini tidak boleh melupakan asal-usulnya. Budaya bukan beban pembangunan, tetapi napas yang menghidupkan pembangunan itu sendiri,” ujar John Kenedy Azis.

Ia menambahkan, semangat menolak lupa men­jadi sikap kolektif Pemerintah Kabupaten Padangpa­riaman dalam menjaga kesinambungan sejarah, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.

“Modernisasi tidak bo­leh mematikan ingatan kolektif. Kita boleh membangun tek­nologi canggih, tetapi jiwa kabupaten ha­rus tetap hi­dup dalam nilai-nilai budaya nagari,” katanya.

Melalui gerakan 100 fes­tival, John Kenedy Azis menjelaskan bahwa setiap ke­giatan budaya dirancang sebagai penggerak ekosistem seni sekaligus e­konomi ke­rakyatan. Me­nurutnya, festival bukan hanya ruang ekspresi seni, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM, pedagang kecil, dan pekerja kreatif. “Di situlah keadilan ekonomi bekerja. Event budaya menjadi dapur hidup ma­sya­rakat,” ujarnya.

Selain itu, revitalisasi seni tradisional juga menjadi fokus utama, antara lain dengan mengaktifkan kembali laga-laga sebagai pusat kreativitas seni anak nagari, pementasan batajau, serta penguatan sanggar seni guna menjaga regenerasi pelaku seni budaya. “Jika seni tradisi tidak diberi ruang tampil, yang terancam punah bukan hanya keseniannya, tetapi juga jati diri kita,” kata John Kenedy Azis.

Ia juga memaparkan pengembangan Nagari Cre­ative Hub (NCH) sebagai titik temu antara tradisi dan teknologi. Saat ini, satu NCH telah dibentuk di Nagari Toboh Gadang Barat melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Su­matera Barat.

Penguatan identitas lo­kal turut diwujudkan me­lalui sejumlah agenda ge­rakan 100 festival, salah satunya Festival Padangpa­riaman mauluik gadang yang diisi dengan rangkaian kegiatan seperti berdikir sarafal anam, sholawat dulang, festival malamang, festival bungo lado, hingga makan bajamba.

Komitmen kolektif an­tara kepala daerah dan jajaran OPD tersebut dinilai layak memperoleh pe­nga­kuan nasional melalui Anu­gerah Kebudayaan PWI Pusat 2026, atas ke­pe­mim­pinan yang menjadikan seni dan budaya sebagai jembatan pemberdayaan masyarakat serta penguatan ekonomi berbasis ke­arifan local. (efa)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |