Kejujuran yang Mengangkat Derajat

17 hours ago 8

PADA masa awal Islam berkembang di Kota Madinah, kehidupan masyarakat mulai berubah perlahan. Nilai-nilai lama yang bertumpu pada kepentingan pribadi dan keuntungan sepihak mulai ditinggalkan. Ajaran Islam hadir membawa prinsip keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial yang kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah hiruk-pikuk pasar Madinah, hiduplah seorang pedagang gandum bernama Sa’ad. Ia bukan pedagang besar, namun cukup dikenal karena lapaknya selalu ramai. Setiap hari, ia menakar gandum, kurma, dan bahan makanan lainnya untuk penduduk kota.

Pasar Madinah kala itu adalah pusat kehidupan ekonomi. Pedagang dan pembeli datang dari berbagai latar belakang. Tidak sedikit pula yang mencoba meraih keuntungan dengan cara curang—mengurangi timbangan, mencampur barang bagus dengan yang rusak, atau menutup aib dagangannya.

Suatu pagi, Sa’ad menata gandumnya dengan rapi. Di bagian atas karung, ia meletakkan gandum berkualitas baik. Namun di bagian bawah, terdapat gandum yang terkena lembap akibat hujan semalam. Sa’ad sadar, jika ia menjualnya tanpa penjelasan, pembeli tidak akan mengetahui perbedaannya.

Saat itulah, Nabi Muhammad SAW melintas di pasar. Beliau selalu menyempatkan diri memantau aktivitas jual beli, bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan keadilan berjalan di tengah umat.

Rasulullah menghampiri lapak Sa’ad. Beliau memasukkan tangannya ke dalam karung gandum dan merasakan bagian bawah yang basah. Dengan wajah teduh, beliau bertanya, “Wahai Sa’ad, apa ini?”

Sa’ad terdiam. Dadanya bergetar. Ia tahu tidak ada yang tersembunyi di hadapan Rasulullah. Dengan jujur ia menjawab, “Wahai Rasulullah, gandum itu terkena hujan semalam.”

Rasulullah pun bersabda dengan lembut namun tegas, “Mengapa tidak engkau letakkan yang basah itu di atas agar orang-orang mengetahuinya?” Lalu beliau melanjutkan, “Barang siapa menipu, maka ia bukan bagian dari golonganku.”

Kalimat itu menusuk hati Sa’ad. Bukan karena kerasnya teguran, melainkan karena kasih sayang yang terkandung di dalamnya. Ia sadar, kejujuran bukan sekadar aturan dagang, tetapi bagian dari iman.

Sejak hari itu, Sa’ad mengubah caranya berdagang. Ia memisahkan gandum basah dan kering. Ia menjelaskan kondisi barang kepada setiap pembeli, meski itu berarti keuntungan yang lebih kecil.

Anehnya, lapaknya justru semakin ramai. Orang-orang merasa aman dan percaya. Mereka tahu Sa’ad tidak pernah menyembunyikan cacat barang dagangannya. Kepercayaan itulah yang membuat rezekinya semakin berkah.

Sa’ad mulai memahami bahwa kejujuran memang tidak selalu memberikan keuntungan cepat, tetapi ia menumbuhkan keberkahan jangka panjang. Hatinya pun menjadi lebih tenang karena tidak ada tipu daya dalam setiap transaksi.

Suatu hari, Sa’ad menceritakan perubahannya kepada Rasulullah. Beliau tersenyum dan mendoakan keberkahan atas usahanya. Doa itu menjadi kekuatan tersendiri bagi Sa’ad untuk terus istiqamah.

Bagi masyarakat Madinah, kisah Sa’ad menjadi pelajaran berharga. Pasar bukan hanya tempat mencari keuntungan, tetapi juga ladang ibadah. Setiap timbangan, setiap akad, dan setiap kejujuran akan dipertanggungjawabkan.

Islam mengajarkan bahwa kejujuran adalah cahaya. Ia mungkin membuat langkah terasa berat di awal, namun menerangi jalan kehidupan hingga akhir. Dalam dunia yang sering menghalalkan segala cara, kejujuran justru menjadi pembeda orang beriman.

Hingga kini, kisah sederhana di pasar Madinah itu tetap relevan. Di tengah persaingan dan godaan dunia modern, teladan Rasulullah mengajarkan bahwa nilai kejujuran tidak pernah usang oleh zaman.

Karena sejatinya, kemuliaan seseorang tidak diukur dari besarnya keuntungan, melainkan dari bersihnya hati dan lurusnya cara dalam mencari rezeki. (***)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |