SOLOK, METRO–Berbicara dalam Seminar Nasional Dies Natalis ke-42 Program Studi Kajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia (UI), Bupati Solok, Jon Firman Pandu mengulas berbagai langkah strategis menyongsong ketahanan pangan didaerah Kabupaten Solok.
Di hadapan jajaran akademisi UI dan Direktur SPPB UI yang diwakili oleh Assoc. Prof. Dr. Hayati Sari Hasibuan, S.T., M.T, Jon Firman Pandu menilai pentingnya membangun sinergi antara kalangan akademisi dan pemerintah sebagai kunci masa depan pangan Indonesia. Selain itu lanjutnya peran strategis daerah dalam menjaga stabilitas pangan nasional juga sangat penting.
“Kabupaten Solok merupakan salah satu lumbung pangan utama di Sumatra Barat (Sumbar). Selain padi, kita juga memiliki berbagai potensi hortikultura dan komoditas unggulan yang terus kita dorong melalui inovasi dan pemberdayaan petani,” ungkapnya.
Jon Firman Pandu juga menambahkan bahwa forum seperti seminar nasional ini sangat penting dalam menyatukan perspektif antara pemerintah daerah, akademisi, dan pemangku kebijakan nasional.
“Kami sangat berbahagia dapat hadir dan berdiskusi dalam forum ilmiah seperti ini. Semoga ke depan, kajian-kajian tentang ketahanan pangan tidak hanya melahirkan rekomendasi, tetapi juga solusi nyata yang dapat diimplementasikan di daerah,” harapnya.
Pemerintah Kabupaten Solok, ungkap Jon Firman Pandu, siap membuka ruang kolaborasi dengan universitas, peneliti, dan lembaga kajian lainnya. Sebab sinergi antara akademisi dan pemerintah daerah akan menjadi kekuatan besar dalam membangun masa depan pangan Indonesia yang lebih kokoh.
Lebih jauh, Jon Firman Pandu mengurai berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mendorong produksi pangan di daerah Kabupaten Solok. Mulai dari penguatan lahan, irigasi, pupuk, hingga alat dan mesin pertanian (alsintan) terus diupayakan. Bahkan pemikiran dalam penguatan sektor lahan perlu dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada dan membuka sawah baru.
“Selain itu, Pemerintah Kabupaten Solok juga telah menerapkan sistem Sawah Pokok Murah yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan. Biasanya petani hanya menghasilkan 4–5 ton gabah per hektare. Tapi dengan sistem ini, hasilnya bisa mencapai 6 hingga 7 ton per hektare,” ujarnya.
Jon Firman Pandu menjelaskan, keberhasilan tersebut sejalan dengan fokus pembangunan daerah. Untuk pertanian, banyak terobosan yang sudah dilakukan dan hasilnya sangat menggembirakan. Potensi panen padi Kabupaten Solok tahun ini diperkirakan mencapai 316 ribu ton, di mana 80 % hasilnya disalurkan ke daerah tetangga.
“Artinya, Kabupaten Solok tidak hanya mandiri pangan, tetapi juga menjadi penyangga utama kebutuhan pangan di Sumbar,” jelasnya.
Selain itu, kata Jon Firman Pandu, Kabupaten Solok kini menjadi salah satu sentra bawang merah dan cabai terbesar di Provinsi Sumbar.
“Untuk bawang merah, kita peringkat dua nasional setelah Brebes. Dari total produksi, 94,7% dikirim ke luar daerah. Sedangkan cabai, sekitar 72% hasilnya juga membantu kebutuhan daerah tetangga,” tambahnya.

5 days ago
21

















































